Mimika, SPR | Suara tifa mulai bertalu sejak matahari condong ke barat, Rabu (19/8/2026), di halaman Kantor Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Detak demi detak tabuhan itu tak berhenti hingga fajar menyingsing esok harinya — sebuah ritus yang oleh masyarakat setempat dijaga bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai jembatan yang menyambungkan mereka dengan leluhur dari Tuga hingga ke tanah Mimika Timur hari ini.
Malam itu bukan malam biasa. Mapuru Jaya, salah satu kampung tertua di distrik ini, tengah merayakan hari jadinya yang ke-50 — usia emas yang dirayakan dengan lomba-lomba rakyat, lantunan lagu bertutur sejarah, pameran ukiran dan anyaman hasil tangan warga, hingga tarian yang mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Yang paling sakral itu pukul tifa. Mereka punya moyang dari Tuga sampai ke Distrik Mimika Timur. Itu yang kami utamakan karena memiliki nilai sakral bagi masyarakat,” tutur Kepala Distrik Mimika Timur, Raymond Tanser, saat ditemui di sela perayaan.
Ketika Kampung Bercerita Lewat Lagu dan Ukiran
Di antara riuh permainan dan sorak-sorai warga, ada momen-momen yang justru berlangsung dalam kesunyian: para perajin yang duduk di sudut halaman, menata hasil anyaman dan ukiran yang mereka buat berbulan-bulan sebelumnya. Bagi mereka, panggung HUT Mapuru Jaya bukan sekadar ajang pamer, melainkan kesempatan langka untuk memperkenalkan karya ke lebih banyak mata.
Raymond mengatakan, pihak distrik sengaja memberi ruang bagi para perajin ini. Ia ingin produk-produk yang selama ini hanya dikenal dari mulut ke mulut di kampung bisa menjangkau pasar yang lebih luas.
“Untuk HUT Mapurjaya ini kami mengutamakan makanan dari masyarakat, termasuk juga ada pemberian dana untuk tarian,” ujarnya.
Di panggung utama, lagu demi lagu dinyanyikan — bukan sembarang lagu, melainkan yang menuturkan alur panjang bagaimana Distrik Mimika Timur dan Mapuru Jaya terbentuk. Warga yang hadir mendengarkan sambil sesekali ikut bersenandung, seolah mengulang kembali cerita yang telah mereka dengar sejak kecil dari orangtua dan kakek-nenek mereka.
“Antusiasme masyarakat yang hadir cukup lumayan. Ada pertandingan, lomba-lomba, kemudian ada beberapa lagu yang dibawakan masyarakat tentang alur cerita mula terbangunnya Distrik Mimika Timur, khususnya Mapurjaya,” kata Raymond.
Perayaan Milik Rakyat
Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong turut hadir dalam perayaan tersebut — kehadiran yang bagi Raymond menjadi bentuk dukungan penting dari pemerintah daerah. Namun ia menegaskan, inti dari perayaan ini tetap ada pada masyarakat itu sendiri.
“Saya memberi apresiasi kepada masyarakat yang hadir mendukung kami dalam melaksanakan HUT Mapuru Jaya, karena HUT ini juga untuk mereka. Hari ulang tahun ini juga milik mereka,” ujarnya, hampir seperti mengingatkan bahwa perayaan setengah abad ini bukan proyek pemerintah, melainkan warisan yang dijaga bersama-sama oleh warga kampung.
Menatap 2027: Dari Perayaan Kampung ke Festival Budaya
Ketika suara tifa akhirnya mereda menjelang pagi, Raymond sudah memikirkan langkah berikutnya. Ia membayangkan HUT Mapuru Jaya suatu hari tak lagi hanya menjadi perayaan tahunan berskala kampung, melainkan tumbuh menjadi festival budaya yang lebih besar — melibatkan sanggar seni, organisasi perangkat daerah, lembaga swadaya masyarakat, hingga berbagai unsur warga lainnya.
“Kalau bisa, HUT Mapuru Jaya bukan hanya seperti biasa. Kami siap mendukung untuk 2027. Kami akan berkoordinasi dengan tim HUT Mapurjaya untuk menambah anggaran,” katanya.
Bagi Raymond, potensi itu bukan sekadar angan. Dengan tradisi seperti pukul tifa yang masih dijaga hidup-hidup oleh warga, ia yakin kampung-kampung di Distrik Mimika Timur punya daya tarik yang bisa mengundang wisatawan — bahkan dari mancanegara — untuk datang dan menyaksikan langsung apa yang selama ini hanya diwariskan dari generasi ke generasi.
“Ini sebagai festival budaya. Kita menarik turis-turis dari mancanegara datang ke Distrik Mimika Timur untuk melihat tradisi-tradisi yang akan dibuat oleh masyarakat di masing-masing kampung,” ujarnya.
Dan ketika pagi benar-benar tiba, tifa yang telah bertalu semalam suntuk pun perlahan berhenti — menyisakan gema yang, jika rencana Raymond terwujud, mungkin akan terdengar lebih jauh lagi pada perayaan-perayaan tahun mendatang. (*/ska)









