Dua Warga Yahukimo Tewas Ditembak, YKKMP Desak Investigasi Independen

oleh -1 Dilihat
Theo Hesegem, YKKMP ketika Bersama Abrien Claude Zoller, Facilitator, President of The Board of The ICP Coalition, GHR (Foto: IST/YKKMP)
“Setiap perjuangan, sekalipun tujuannya dianggap paling mulia, akan kehilangan arah dan keabsahannya jika menginjak-injak martabat manusia” — Theo Hesegem, Direktur Eksekutif YKKMP

WAMENA, SPR – Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) menyampaikan belasungkawa dan mendesak investigasi independen atas tewasnya dua warga, Yentinus Kogeya dan Sely Wenda, dalam peristiwa penembakan di Yahukimo, Papua Pegunungan, pada Selasa, 21 Juli 2026. YKKMP menyebut insiden tersebut diduga dilakukan oleh anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Komando Daerah Pertahanan (Kodap) XVI Yahukimo.

Dilansir dari Newguinekurir, Direktur Eksekutif YKKMP, Theo Hesegem, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

“Kami turut merasakan perih yang dirasakan seluruh keluarga korban. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa menganugerahkan kekuatan, penghiburan, dan ketabahan yang tak terhingga untuk menghadapi cobaan yang begitu berat ini,” ujar Hesegem.

Menurut YKKMP, Yentinus Kogeya sebelumnya pernah menjadi korban insiden penembakan oleh aparat keamanan atas dugaan membawa amunisi. YKKMP menyebut, saat itu, Theo Hesegem turut mendampingi proses perawatannya, mulai dari penanganan di RSUD Wamena hingga proses rujukan ke Jayapura bersama petugas Lembaga Pemasyarakatan Wamena.

YKKMP menyatakan hingga saat ini belum ada bukti yang terverifikasi secara independen mengenai motif penembakan tersebut. YKKMP juga menegaskan bahwa penyebutan kedua korban sebagai anggota “Panpol” merupakan tuduhan yang belum melalui proses pemeriksaan hukum yang sah, dan menekankan bahwa setiap orang berhak atas asas praduga tak bersalah sampai terbukti sebaliknya melalui proses yang adil dan terbuka.

“Apabila peristiwa ini benar terjadi sebagaimana yang dilaporkan, maka tindakan tersebut adalah pelanggaran nyata terhadap nilai-nilai kemanusiaan, Hak Asasi Manusia, serta Hukum Humaniter Internasional,” tegas Hesegem.

Hesegem mengingatkan bahwa dalam situasi konflik bersenjata sekalipun, masyarakat sipil dan pihak yang tidak terlibat dalam permusuhan harus dilindungi, serta penggunaan kekuatan harus terukur dan proporsional sesuai prinsip hukum humaniter internasional yang berlaku.

YKKMP menyampaikan sejumlah seruan kepada berbagai pihak terkait insiden ini:

  • Kepada TPNPB di Yahukimo, YKKMP meminta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap tindakan yang menggunakan kekuatan, serta instruksi tegas kepada jajaran untuk tidak menyasar warga sipil dan mematuhi Hukum Humaniter Internasional.
  • Kepada TNI dan Polri, YKKMP meminta agar tugas pengamanan dilaksanakan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan mengutamakan perlindungan warga sipil.
  • Kepada Pemerintah Republik Indonesia, YKKMP meminta agar konflik tidak dibiarkan berlarut dalam kekerasan, serta mendorong penguatan dialog dan penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu.
  • Kepada Komnas HAM, YKKMP meminta dilakukan pemantauan dan penyelidikan secara mandiri, objektif, dan transparan.
  • Kepada masyarakat Papua, YKKMP mengajak semua pihak menjaga persatuan dan tidak membiarkan duka berubah menjadi kekerasan baru.

Di akhir pernyataannya, Hesegem menyampaikan: “Kita semua adalah bagian dari tanah ini. Perdamaian yang adil dan abadi hanya akan tumbuh jika kita semua berjanji untuk menghormati hak hidup sesama, memegang teguh hukum yang adil, dan menjadikan perlindungan manusia sebagai tujuan utama setiap langkah yang kita ambil. Tanpa itu, kita hanya akan terus berputar dalam lingkaran kekerasan yang tak berujung.” (SPR)