Tembagapura, SPR| PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan kapasitas produksi tambang bawah tanah dapat pulih hingga sekitar 65 persen pada akhir semester kedua 2026, pascatragedi luncuran material basah yang menimbun area tambang.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan proses pemulihan menghadapi tantangan besar karena tim harus memindahkan sekitar 800.000 ton material lumpur basah. Selain itu, sejumlah infrastruktur dan alat berat turut rusak, di antaranya lokomotif dan gerbong yang tertimbun, jaringan telekomunikasi yang terputus, serta sistem ventilasi raksasa yang harus diganti.
“Berkat kerja keras seluruh tim dan dukungan berbagai pihak, kapasitas produksi diproyeksikan dapat mencapai sekitar 65 persen pada akhir semester kedua tahun ini. PTFI menargetkan produksi sekitar 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounce emas,” kata Tony.
Pernyataan tersebut disampaikan Tony saat memimpin upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah kerja Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Senin (17/8/2026).
Ia menyampaikan, kapasitas produksi PTFI ditargetkan terus meningkat secara bertahap, mencapai sekitar 75 persen pada pertengahan 2027, sebelum mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027.
“Ke depan, kapasitas produksi diharapkan dapat meningkat hingga sekitar 75 persen pada pertengahan tahun 2027, dan secara bertahap mendekati kapasitas produksi penuh pada akhir tahun 2027,” ujarnya.
Smelter Gresik Siap Beroperasi
Tony juga menyampaikan bahwa smelter PTFI di Gresik, Jawa Timur, telah siap menjalankan kegiatan pengolahan dengan kapasitas pemurnian hingga 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun.
Menurutnya, kesiapan fasilitas tersebut menjadi tonggak penting bagi penguatan industri hilirisasi mineral di Indonesia. Ia menyebut Gresik berpotensi menjadi pusat pemurnian mineral terbesar dalam sejarah hilirisasi nasional.
“Pencapaian ini menjadikan Gresik sebagai pusat pemurnian mineral terbesar dalam sejarah hilirisasi Indonesia. Ini juga menegaskan komitmen nyata PTFI dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri untuk mendukung pertumbuhan industri nasional,” tutur Tony. (ska)









