Bagian 1

UGAPUGA, 24 Juni 2026 — Suarapapuaraya.com | Bagi generasi sekarang, gereja baru itu adalah lambang syukur atas 75 tahun iman Katolik di Ugapuga. Namun, bagi mereka yang mengenal sejarahnya, bangunan itu juga menjadi monumen hidup bagi para guru perintis seperti Canisius Yoseph Amareyau yang pernah memulai semuanya dari sebuah gereja sederhana beratapkan seng.

Dentang lonceng gereja mengiringi langkah ribuan umat yang memadati halaman Gereja Katolik Santo Yohanes Pemandi Ugapuga, Kabupaten Dogiyai. Hari itu menjadi momen bersejarah ketika Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, meresmikan sekaligus memberkati gereja baru Paroki Santo Yohanes Pemandi Ugapuga dalam rangka perayaan 75 tahun pewartaan iman Katolik di Ugapuga (1951–2026).

Di tengah sukacita umat, mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa puluhan tahun sebelum gereja megah itu berdiri, di tempat yang sama pernah berdiri sebuah gereja darurat yang dibangun dengan kayu dan beratapkan seng. Bangunan sederhana itu lahir dari kerja keras para guru, misionaris, pemuda kampung, dan masyarakat setempat yang bergotong royong membuka jalan bagi pelayanan pendidikan dan pewartaan Injil di pedalaman Papua.

Salah seorang tokoh yang turut meletakkan fondasi sejarah tersebut adalah Pak Guru Canisius Yoseph Amareyau, putra Kampung Keakwa, Mimika. Sebagai guru sekolah dasar yang diutus ke Ugapuga pada akhir dekade 1950-an, ia tidak hanya mengajar anak-anak di ruang kelas, tetapi juga ikut merintis pembangunan Gereja Katolik pertama di Ugapuga bersama umat dan para misionaris.

Kisah perjuangan Pak Guru Amareyau merupakan bagian dari sejarah panjang pendidikan dan karya misi di Tanah Papua yang belum banyak dikenal. Dari tangan seorang guru asal Kamoro inilah tersimpan cerita tentang bagaimana pendidikan, iman, dan pengabdian tumbuh berdampingan di tengah rimba Papua.

Kedatangan guru-guru sekolah dasar asal Mimika ke wilayah pedalaman Papua pada masa lalu tentu tidak semudah akses transportasi saat ini. Keterbatasan sarana transportasi dan minimnya infrastruktur bukanlah penghalang bagi mereka untuk menembus rimba Papua pada masa pemerintahan kolonial Belanda dan awal karya para misionaris.

Dalam sejarah pendidikan orang Papua, masyarakat Kamoro di Mimika memiliki peran penting dalam melahirkan tenaga pendidik untuk berbagai wilayah pedalaman Papua, termasuk wilayah Paniai. Sejak tahun 1927, ketika misionaris Katolik mulai berkarya di pesisir Mimika, para pemuda Kamoro dididik dan dipersiapkan menjadi guru sekolah dasar. Mereka mengawali pendidikan di Kokonao, kemudian melanjutkan pendidikan keguruan di Merauke dan Fakfak yang pada masa itu menjadi pusat pendidikan calon guru di Tanah Papua.

Salah seorang di antaranya adalah Pak Guru Canisius Yoseph Amareyau, putra Kampung Keakwa, Mimika. Ia bertugas sebagai guru di Ugapuga, Kabupaten Dogiyai (1957–1963), kemudian dipindahkan ke Wamena (1964–1969), selanjutnya ke Fakfak (1969–1972), dan akhirnya kembali mengabdi di Mimika, terutama di sekitar Kota Timika, sejak tahun 1982 hingga akhir hayatnya pada tahun 2021.

Menurut penuturannya, ia tidak hanya diutus sebagai guru, tetapi juga turut merintis perkembangan Gereja Katolik di wilayah Moanemani dan Ugapuga.

“Kami membangun Gereja Katolik Ugapuga menggunakan kayu buah, kemudian memasang atap seng.”

Peristiwa itu terjadi pada akhir dekade 1950-an.

Pada masa itu, sebagian besar masyarakat Mee di Ugapuga masih mengenakan koteka bagi laki-laki dan moge (cawat) sebagai pakaian tradisional. Bersama beberapa rekan guru, para pemuda setempat, dan sejumlah orang tua kampung, Pak Guru Amareyau membangun sebuah gereja darurat. Mereka mengerjakan bangunan tersebut dengan penuh rasa cemas karena belum pernah memasang atap seng sebelumnya. Bagi masyarakat setempat, seng merupakan bahan bangunan modern yang belum pernah mereka gunakan, bahkan sebagian besar baru pertama kali melihatnya.

Pak Guru Amareyau mengenang pengalaman itu:

“Waktu kami kerja, kami takut. Tangan juga terasa kaku saat memotong seng. Kami khawatir salah ukur atau salah memasang. Apalagi kalau atapnya miring, kami takut dimarahi atau ditegur pastor.”

Demikian kenangnya saat diwawancarai penulis di Mimika pada tahun 2017.

Pada tahun 1963, Pak Guru Amareyau dipindahkan kembali ke Mimika dan bertugas di Inauga, dekat Pantai Omoga. Tidak lama kemudian, sekitar tahun 1964, ia memperoleh penugasan baru ke Lembah Baliem. Di sana ia mengajar di SD YPPK Santo Yoseph serta dipercaya sebagai kepala sekolah. Ia menjalankan tugas tersebut hingga sekitar tahun 1969 sebelum kembali memperoleh penugasan berikutnya.

Bersambung…

Penulis : Willem Bobi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini