
True Story : Penulis yang tinggal di Timika sejak tahun 1985 (4)
Timika di penghujung tahun 80-an bukanlah kota yang riuh oleh mesin. Pada saat itu, kendaraan bisa dihitung dengan jari. Angkutan umum, kami menyebutnya “Taxi” sederhana yang menjadi urat nadi kehidupan. Memasuki tahun 1990, trayek adalah sebuah kemewahan yang tak ada aturannya. Tak ada jadwal pasti, tak ada rute tetap.
Semua bergantung pada “hukum rimba” penumpang. Jika tujuan Kwamki Lama sedang ramai, ke sanalah moncong mobil mengarah. Penumpang tujuan SP 1 atau SP 2? Mereka hanya bisa pasrah, jongkok di pinggir jalan berdebu, menunggu hingga nasib mempertemukan mereka dengan cukup banyak orang untuk tujuan yang sama.
Tahun 1992, saya hanyalah seorang anak kecil yang beranjak remaja mengadu nasib menjadi kondektur taxi milik tetangga. Dengan tarif 200 rupiah ke Kwamki atau 500 rupiah ke Mapurujaya, kami membelah sunyinya belantara Mimika. Hidup kami ditentukan oleh “Om Sopir” dan instingnya mencari penumpang di antara pasar dan pemukiman.
Suatu sore, sekitar pukul tiga, takdir membawa kami ke rute yang asing. Banyaknya penumpang tujuan Mapurujaya memaksa kami menempuh perjalanan jauh ke wilayah yang belum pernah kami jamah sebelumnya. Saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, kami baru memulai perjalanan pulang.
Tiba-tiba, di tengah hutan yang lebat dan jalanan berpasir dan berlumpur, sunyi, gelap dan mencekam, mesin tiba-tiba terbatuk. Akhirnya Mati.
Hening seketika menyergap. Tak ada lampu kabin, tak ada senter, tak ada cahaya selain rembulan yang tertutup tajuk pohon. Om Sopir mencoba mengutak-atik mesin dalam buta, hanya dibantu kerlip korek api gas yang sesekali menyala. Namun, besi tua itu tetap bungkam.
“Bensin habis,” gumamnya pendek.
Saya ditinggal sendiri. Om Sopir menumpang kendaraan lain yang lewat untuk mencari bensin di Mapuru Jaya, sementara saya harus menjaga taxi tua itu di tengah kegelapan total. Setiap gesekan daun dan suara serangga hutan terasa seperti bisikan. Ketakutan itu nyata, dingin, dan menyesakkan. Saya meringkuk di jok mobil, berusaha memejamkan mata di bawah tatapan pepohonan raksasa yang seolah mengawasi.
Malam semakin larut ketika Om Sopir kembali membawa jerigen berisi lima liter bensin. Namun, kegelapan menjadi musuh utama. Kami mencoba meraba-raba dalam gelap, mencoba memasukkan moncong jerigen ke lubang tangki, namun bensin justru tumpah sia-sia.
“Nyalakan koreknya! Saya tidak lihat lubangnya!” perintah Om Sopir ketus.
Jantung saya berdegup kencang. Firasat buruk menjalar. “Jangan, Om. Nanti terbakar!” tolak saya gemetar.
“Sudah, cepat! Tidak akan apa-apa!” dia bersikeras.
Dengan tangan gemetar, saya memantik korek api itu tepat di dekat uap bensin yang menguap dari lubang tangki.
Wush!
Hanya dalam sepersekian detik, api menyambar udara. Jerigen itu terlempar karena kaget, menyiramkan cairan maut ke arah saya. Api seketika menjilati pergelangan tangan kiri saya, menari-nari di atas kulit. Panik meledak. Saya melompat, berguling-guling di atas rumput basah, berteriak dalam diam sambil berusaha mematikan api yang melalap daging. Sementara itu, Om Sopir berjibaku melawan kobaran api agar tidak menyentuh tangki utama—agar kami tidak hancur berkeping-keping malam itu.
Kami akhirnya menyerah. Dengan tangan yang melepuh dan syok yang masih membekas, kami meninggalkan taxi itu membusuk di kegelapan dan mulai berjalan kaki menembus malam. Beruntung, sebuah taxi dari arah Mapuru Jaya melintas dan memberi kami tumpangan.
Saat kami menceritakan musibah itu, raut wajah sopir penyelamat kami berubah tegang.
“Lain kali, kalau lewat situ, bunyikan klakson,” bisiknya berat. “Kalian sedang berada di wilayah Tete Mapurupuau. Di situ aromanya beda. Kalau kau langgar adat atau lewat tanpa permisi, mesin bisa mati tiba-tiba. Itu cara mereka menyapa.”
Hari ini, tempat yang hampir merenggut tangan saya itu telah berdiri tegak sebuah Taman Budaya. Patung Mapurupuwau berdiri dengan gagahnya, sosok legendaris suku Kamoro yang diyakini membawa peradaban baru di tanah Mimika. Sebuah pengingat bahwa di balik pembangunan dan roda yang berputar, ada sejarah dan “penghuni” lama yang tak boleh dilupakan kehadirannya.
Tangan saya telah sembuh meski ada bekas terbakar pada kulit, tapi ingatan akan api di tengah hutan Mapuru Jaya itu akan tetap membara selamanya. (*)



























