Catatan Penulis yang tinggal di Timika sejak tahun 1985 (1)

Timika, 1992. Kota ini belum seperti sekarang. Kala itu, Timika hanyalah hamparan hutan belantara yang dipisahkan oleh jalanan berbatu yang meliuk tajam. Kendaraan adalah sesuatu yang langka dan kemewahan; angkutan umum hanya sesekali melintas, melaju tanpa rute pasti, hanya mengikuti ke mana kaki penumpang ingin berpijak. Dimana ada penumpang disitulah angkutan umum pergi.

Di tahun itu, saya adalah seorang anak kelas 1 SMP Negeri 2 yang harus menantang sepi. Setiap hari, jam menunjukkan pukul 10 pagi saat saya mulai melangkah untuk ke sekolah. Jam masuk sekolah pukul 12 siang. Jika dewi fortuna berpihak, sebuah taksi akan muncul. Jika tidak? Kakiku harus menempuh perjalanan 8 hingga 9 kilometer, membelah keheningan hutan dan jalan berbatu terkadang berlumpur jika sehabis hujan.

Sepanjang jalan dari SP 1 menuju Sempan, hanya ada pohon-pohon besar yang tegak membisu di kiri dan kanan jalan. Rumah penduduk bisa dihitung dengan jari, tersebar berjauhan seolah enggan saling bertegur sapa.

Menembus Kegelapan

Pukul lima sore, bel sekolah berdentang. Itu adalah tanda untuk berpacu dengan waktu. Saya harus bergegas, mempercepat langkah sebelum senja ditelan malam. Di rumah dan sepanjang jalan, hanya ada kegelapan yang menunggu karena listrik belum menyentuh tanah kami.

Namun, pada suatu hari ada pelajaran tambahan dan menahan saya hingga pukul enam sore. Jantung saya berdegup kencang saat melihat langit mulai menghitam. Ketakutan menyergap, dengan Langkah tergesa-gesa berjalan pulang. Di tengah kecemasan itu, muncul sosok Alfian, seorang kawan satu sekolah dan saling mengenal seja SD. Ia membawa sepeda, tapi ia tidak bisa membonceng. Meski begitu, ia memilih turun dan mendorong sepedanya, berjalan bersamaku hanya agar aku tidak sendirian menembus pekatnya malam.

Kami berjalan dalam waspada. Setiap ranting yang patah atau suara misterius dari balik semak membuat kami lari tunggang langgang, hingga deru napas kami mengalahkan suara hutan. Kami terus berjalan, hingga di Kilometer 6, sebuah cahaya senter memecah kegelapan.

“Kan… itu kamu kah, Le?”

Suara itu. Suara yang sangat saya kenal. Itu Bapak. Seketika,  ketakutan saya runtuh, berganti dengan kegembiraan.

Sebuah Pelajaran Tentang Kasih Sayang

Bapak datang menjemput dengan sepeda untanya. Bapak dan saya berterima kasih kepada Alfian yang sudah menemani. Setelah Alfian pamit dan melesat pergi, saya bersiap untuk naik ke atas sepeda, membayangkan rasa lelah ini akan berakhir dengan boncengan Bapak.

Namun, dengan suara lembut yang bergetar, Bapak berucap, “Bapak tidak bisa gonceng, Le…”

Rasa kecewa langsung membakar dada. “Kalau tidak bisa bonceng, Bapak tidak usah jemput! Percuma, saya tetap saja jalan kaki!” sergah saya dengan ego seorang anak yang kelelahan.

Bapak tidak marah. Ia justru merangkul bahu saya dengan hangat. Di bawah langit malam yang pekat, ia berbisik, “Bapak khawatir sama kamu. Sudah malam begini belum sampai rumah. Bapak takut kamu kenapa-napa, makanya Bapak susul.”

Ketulusan Bapak, rasa kecewa menjadi sirna dan kami berjalan bersama.

Malam itu, kami sampai di rumah pukul setengah delapan malam. Kami tetap berjalan kaki, namun kali ini saya tidak lagi merasa sendiri. Setiba dirumah Emak sudah menunggu dengan rasa cemas di depan rumah, ditemani cahaya pelita yang berayun-ayun ditiup angin. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini