

Oleh : Priatna Agus Setiawan*
Penelitian terbaru dalam jurnal The Leadership Quarterly menunjukkan bahwa servant leadership berkorelasi positif dengan kepercayaan organisasi, keterlibatan karyawan, dan kinerja tim (Eva et al., 2019). Artinya, ketika pemimpin benar-benar melayani timnya, organisasi justru menjadi lebih kuat, bukan lebih lemah.
Beberapa waktu lalu muncul sebuah pernyataan yang cukup menarik dari Crystal Zaugg, Head of School di SIS Medan. Ia mengatakan “Leadership is about service, not position.” “Leadership is not a rank or position to be attained. Leadership is a service to be given.”
Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh salah satu perdebatan klasik dalam dunia kepemimpinan “Apakah pemimpin itu ditentukan oleh jabatan, atau oleh kemampuan melayani dan mempengaruhi orang lain?”
Banyak orang menganggap bahwa begitu seseorang menjadi direktur, manajer, kepala sekolah, atau kepala divisi, maka otomatis ia menjadi pemimpin. Namun pengalaman organisasi sering menunjukkan hal yang berbeda.
Tidak sedikit orang memiliki jabatan tinggi, tetapi tidak benar-benar diikuti. Sebaliknya, ada orang tanpa jabatan formal yang justru didengar, dihormati, dan diikuti. Di sinilah kita mulai memahami satu hal penting bahwa jabatan dapat memberi otoritas, tetapi tidak selalu memberi kepemimpinan.
Ketika Jabatan Tidak Cukup
Dalam organisasi modern, jabatan memang penting. Tanpa struktur formal, organisasi akan sulit berjalan. Sosiolog klasik Max Weber menjelaskan bahwa organisasi modern bekerja berdasarkan otoritas rasional-legal, yaitu kewenangan yang berasal dari jabatan dalam struktur formal organisasi (Weber, 1947). Melalui struktur ini, organisasi dapat menentukan:
• siapa yang berhak mengambil keputusan
• siapa yang bertanggung jawab atas kinerja
• siapa yang mengelola sumber daya.
Karena itu jabatan tetap diperlukan. Tanpa jabatan, sulit memastikan akuntabilitas.
Namun ada masalah yang sering terjadi di banyak organisasi bahwa orang bisa memiliki jabatan, tetapi tidak memiliki pengaruh. Ahli kepemimpinan dari Harvard Business School, John Kotter, menjelaskan bahwa manajemen dan kepemimpinan bukan hal yang sama (Kotter, 1990). Manajemen berhubungan dengan sistem, perencanaan, dan kontrol. Sementara kepemimpinan berkaitan dengan kemampuan memotivasi dan menggerakkan manusia.
Itulah sebabnya kita sering melihat fenomena seperti ini di tempat kerja “Orang patuh kepada atasan karena harus patuh. Tetapi mereka mengikuti pemimpin karena percaya.”
Mengapa Kepemimpinan Disebut Pelayanan?
Konsep bahwa pemimpin adalah pelayan bukan sekadar slogan motivasi. Ide ini memiliki akar kuat dalam literatur kepemimpinan modern, terutama melalui konsep servant leadership yang diperkenalkan oleh Robert K. Greenleaf.
Greenleaf menyatakan bahwa pemimpin sejati adalah orang yang memiliki dorongan untuk melayani terlebih dahulu (Greenleaf, 1977). Kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, tetapi tentang membantu orang lain berkembang.
Ia bahkan mengajukan satu pertanyaan sederhana sebagai “tes kepemimpinan”: Apakah orang yang dipimpin menjadi lebih baik, lebih bijak, lebih mandiri, dan lebih mampu berkembang? Jika jawabannya “ya”, maka kepemimpinan itu berhasil.
Dalam dunia organisasi modern, pemimpin tidak lagi hanya menjadi pengarah pekerjaan, tetapi juga mentor, coach, pengembang talenta, dan penjaga budaya organisasi.
Penelitian terbaru dalam jurnal The Leadership Quarterly menunjukkan bahwa servant leadership berkorelasi positif dengan kepercayaan organisasi, keterlibatan karyawan, dan kinerja tim (Eva et al., 2019). Artinya, ketika pemimpin benar-benar melayani timnya, organisasi justru menjadi lebih kuat, bukan lebih lemah.
Apakah Kepemimpinan Hanya Tentang Pelayanan?
Di sinilah kita perlu berhati-hati. Mengatakan bahwa kepemimpinan hanya tentang pelayanan juga bisa menjadi penyederhanaan yang berlebihan.
Organisasi tetap membutuhkan otoritas formal. Seseorang harus memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan strategis, mengalokasikan sumber daya, dan menegakkan disiplin organisasi.
Tanpa otoritas formal, organisasi bisa berubah menjadi diskusi tanpa keputusan.
Pakar kepemimpinan Gary Yukl menegaskan bahwa pemimpin efektif harus mampu menggunakan kekuasaan formal secara bertanggung jawab sekaligus membangun hubungan kepercayaan dengan pengikutnya (Yukl, 2013). Dengan kata lain, kepemimpinan tidak bisa hanya bergantung pada jabatan, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya mengabaikan jabatan.
Rumus Sederhana Kepemimpinan
Jika kita merangkum berbagai teori kepemimpinan modern, sebenarnya ada satu keseimbangan penting bahwa “jabatan memberikan otoritas, tetapi karakter memberikan pengaruh.” Atau dengan kalimat lain “Position gives authority. Character gives legitimacy.”
Pemimpin yang hanya mengandalkan jabatan akan menjadi boss. Pemimpin yang memiliki integritas akan menjadi leader. Boss mungkin ditaati, tetapi leader diikuti.
Pelajaran Penting bagi Pemimpin Organisasi
Bagi para praktisi HR, pemimpin organisasi, atau manajer tim, ada beberapa pelajaran penting dari diskusi ini.
- Jabatan tidak otomatis menciptakan kepemimpinan
Promosi jabatan tidak menjamin seseorang menjadi pemimpin yang efektif. Karena itu organisasi perlu mengembangkan leadership development, bukan sekadar career promotion. - Pengaruh lebih kuat daripada kekuasaan
Dalam organisasi berbasis pengetahuan saat ini, orang tidak hanya bekerja karena diperintah, tetapi karena mereka percaya pada visi pemimpinnya. - Integritas adalah sumber legitimasi kepemimpinan
Pemimpin yang konsisten antara kata dan tindakan akan memperoleh sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh jabatan: kepercayaan. Dan kepercayaan adalah mata uang paling mahal dalam kepemimpinan.
Pemimpin yang Dibutuhkan Masa Depan
Dunia kerja sedang berubah sangat cepat. Organisasi masa depan tidak membutuhkan pemimpin yang sekadar pandai memberi perintah. Organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu mengambil keputusan strategis, memiliki otoritas yang jelas, tetapi juga memiliki kerendahan hati untuk melayani.
Pemimpin seperti ini tidak hanya dihormati karena jabatannya, tetapi juga karena integritas dan kontribusinya. Pada akhirnya, mungkin kita bisa merumuskan kepemimpinan dalam satu kalimat sederhana “Jabatan membuat seseorang menjadi atasan. Tetapi pelayanan dan integritas membuat seseorang menjadi pemimpin.” [*]
*Management Guru


























