True Story :  Penulis yang tinggal di Timika sejak tahun 1985 (2)

Tahun 1985 adalah tahun di mana debu, lumpur, gelap, belantara dan harapan menyatu di cakrawala SP 1 (kini Kamoro Jaya) Timika. Saat itu, kami adalah para pionir di tanah transmigrasi yang masih mentah.

Pada tahun itu Timika, titiknya di pasar (kini pasar lama) dan bagian dari Kecamatan Mimika Timur, Kabupaten Fak-fak. Ibu Kota Kecamatan Mimika Timur yaitu Mapurujaya.

dalam tulisan ini, akan diceritakan perjuangan anak-anak yang akan ke sekolah. Gedung SD Inpres Timika 1 hanyalah tumpukan material yang sedang berjuang tegak dan dalam proses pembangunan, memaksa anak-anak kecil dengan seragam seadanya melakoni perjalanan yang mungkin akan membuat orang zaman sekarang bergidik.

Bagi mereka yang duduk di kelas tiga ke atas, menuntut ilmu berarti menantang letih. Setiap pagi, jalanan yang kini dikenal sebagai Jalan Yos Sudarso hanyalah rintisan sempit yang diapit raksasa-raksasa hijau. Hutan rimba yang sunyi menjadi saksi bisu langkah-langkah kecil anak-anak SP 1 menuju SD Inpres Koperapoka.

Jarak sembilan kilometer ditempuh tanpa alas kaki yang mewah, tanpa kendaraan umum, hanya bermodal tekad. Jika dewi fortuna sedang berpihak, mereka akan pulang dengan wajah berdebu di atas bak truk pengangkut pasir, atau bertengger di atas bulldozer panas yang meraung membelah jalanan.

Suatu sore yang sunyi, ketika kabut mulai turun, kedua kakak saya harus menempuh jalan pulang berdua. Teman-temannya absen hari itu, meninggalkan mereka berdua berhadapan dengan sunyinya belantara. Di tengah keputusasaan karena kaki yang mulai mati rasa, berpapasan dengan sesosok pria Papua.

Pria yang kami panggil “Om” itu melihat dua jiwa kecil yang nyaris tumbang. Tanpa banyak kata, sebuah keajaiban kemanusiaan terjadi:

Di atas bahunya yang perkasa, ia memanggul kakak saya secara bergantian. Saat yang satu mulai lunglai, ia menurunkannya dengan lembut dan mengangkat yang lainnya ke atas pundak. Silih berganti, berkilo-kilometer jauhnya, hingga atap rumah kami terlihat di kejauhan.

Tak ada kata yang cukup untuk membayar tetes keringat pria asing itu. Sebagai tanda syukur yang mendalam, orang tua kami mengisi sebuah karung hingga sesak. Singkong, pisang, jagung, dan sayuran segar hasil keringat di kebun halaman rumah diberikan sebagai bekal pulangnya. Itu bukan sekadar transaksi, itu adalah ikatan persaudaraan yang lahir dari rahim tanah Papua.

Sementara kakak-kakak kami berjuang di jalanan jauh, anak-anak kelas satu dan dua—termasuk saya—menempati Balai Desa yang disulap menjadi ruang kelas darurat. Di bawah bimbingan Pak Guru Sugiyo dan Pak Guru Ramidi, kami belajar mengeja masa depan di tengah keterbatasan.

Itulah masa di mana pendidikan tidak diukur dari fasilitas, melainkan dari seberapa kuat kaki kita melangkah dan seberapa besar hati orang-orang di sekitar kita untuk saling menopang. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini