
SEMARANG — suarapapuaraya.com | “Kesempatan tidak datang dua kali. Ketika kesempatan itu hadir, manfaatkanlah sebaik mungkin.” Kalimat sederhana ini bukan sekadar pemanis kata, melainkan jangkar hidup bagi Fitalia Tumuka. Perempuan muda asal Suku Kamoro ini berhasil membuktikan bahwa keterbatasan dan patah hati akibat kegagalan bukanlah tembok pembatas untuk merajut mimpi setinggi langit.
Pada 13 Juni 2026, Aula Wisuda Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang menjadi saksi bisu dari sebuah kemenangan besar. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-24, Fitalia resmi berdiri di podium wisuda, menyandang gelar Sarjana Hukum dengan predikat tertinggi: Cumlaude.
Bagi sebagian orang, wisuda mungkin hanyalah sebuah seremoni akademik tahunan. Namun bagi Lia—sapaan akrabnya—momen itu adalah puncak dari sebuah teater perjuangan yang panjang. Sebuah akhir manis dari perjalanan yang sempat diwarnai air mata, ketidakpastian, dan keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika peta hidupnya harus berubah arah.
Dilahirkan di Timika pada 13 Juni 2002, Lia merupakan anak kedelapan dari sembilan bersaudara dari pasangan Anaklitus Tumuka dan Lidia Nawaripi. Dibesarkan dalam kehangatan keluarga sederhana di tanah Papua, Lia menempa dirinya untuk memahami satu hal sejak dini: pendidikan adalah kemewahan yang harus ditebus dengan tanggung jawab besar.
Langkah awalnya dimulai dari SD YPPK Tiga Raja Timika, kemudian berlanjut ke SMP YPPK Santo Bernardus Timika. Titik balik hidupnya tiba ketika ia mendapatkan beasiswa dari Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) melalui Yayasan Pendidikan Kamoro Bangkit (YPKB), di bawah bimbingan Yayasan Binterbusih. Beasiswa ini menerbangkannya ribuan kilometer dari kampung halaman, menuju Kota Semarang untuk menempuh bangku SMA.
Merantau di usia muda tentu tidak mudah, apalagi ketika badai ujian pertama datang. Saat menempuh studi di SMA Santo Mikael Semarang pada tahun 2021, sekolah tersebut terpaksa ditutup karena kekurangan siswa. Lia yang saat itu baru mulai beradaptasi, dipaksa pindah ke SMA Sint Louis saat naik ke kelas XI.
Bagi seorang remaja di kota asing, situasi itu sempat memercikkan rasa kecewa dan ketidakpastian. Namun, alih-alih larut dalam kesedihan, Lia memilih memeluk adaptasi.
“Di SMA Sint Louis saya hanya sempat belajar satu tahun. Tetapi saya percaya bahwa setiap perubahan harus dijalani dengan hati yang baik,” kenangnya dengan nada optimis saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Cobaan Lia tidak berhenti di situ. Usai lulus SMA, ia memendam mimpi besar untuk mengenakan seragam praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Ia bahkan bermigrasi ke Bandung untuk mengikuti bimbingan belajar intensif selama tiga bulan, sebelum akhirnya terbang ke Jayapura demi mengikuti tes seleksi.
Namun, takdir berkata lain. Garis akhir seleksi IPDN belum berpihak padanya.
Kegagalan di IPDN sempat memaksa Lia untuk duduk dan merombak ulang seluruh rencana masa depannya. Di tengah sisa waktu pendaftaran perguruan tinggi yang kian menyempit, ia memutuskan kembali ke Jawa dan mendaftar ke dua universitas swasta ternama: Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung dan Unika Soegijapranata Semarang.
Meskipun hatinya sempat tertambat pada Kota Kembang, takdir justru menuntun langkah kakinya kembali ke Semarang. Lia akhirnya memilih Unika Soegijapranata.
Keputusan yang awalnya diambil di tengah keterdesakan dan tidak pernah ada dalam rencana aslinya itu, kini terbukti menjadi salah satu keputusan terbaik dalam hidupnya. Di kampus inilah, gadis Kamoro yang tangguh ini menempa diri, membalikkan keadaan, dan membuktikan bahwa dari ketidakpastian, sebuah prestasi gemilang bisa dilahirkan. (*/spr)

























