Penyerahan Alkitab secara simbolis dari pemerintah dan misionaris kepada para pelayan firman. (IST)

TIMIKA — Suarapapuaraya.com | Bayangkan Anda mendengarkan pesan paling suci dalam hidup, bukan melalui bahasa pengantar yang kaku, melainkan lewat bahasa ibu yang biasa Anda tuturkan sejak kecil—bahasa yang menyatu dengan detak jantung, alam, dan tradisi leluhur. Perasaan magis dan haru itulah yang kini tengah menyelimuti masyarakat Suku Damal dan Suku Amungme di Kabupaten Mimika.

Penantian panjang itu akhirnya tuntas. Gedung GOR Futsal SP5 menjadi saksi bisu dari sebuah lompatan sejarah besar: Peluncuran dan Peresmian Alkitab dalam Bahasa Damal dan Bahasa Amungme.

Kehadiran Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong, dalam acara tersebut bukan hanya sekadar formalitas birokrasi. Ia berdiri di sana sebagai saksi dari lahirnya sebuah warisan abadi bagi tanah Papua.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Mimika, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses penerjemahan Alkitab ini,” ungkap Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong dengan penuh kebanggaan.

Bagi masyarakat lokal, peluncuran ini memiliki dampak yang jauh lebih besar dari sekadar terbitnya sebuah buku. Di tengah gerusan zaman modern yang kerap mengancam kepunahan bahasa ibu, Alkitab berbahasa daerah ini hadir sebagai benteng penyelamat identitas.

Wabup Emanuel menegaskan bahwa peristiwa ini menggoreskan tinta emas dalam perjalanan budaya dan spiritualitas Suku Damal dan Amungme.

“Peluncuran ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan momentum iman, sejarah, budaya, dan peradaban yang sangat penting bagi masyarakat Papua, khususnya Suku Damal dan Suku Amungme. Bahasa daerah adalah identitas, warisan leluhur, sekaligus kekayaan budaya yang harus kita jaga bersama,” tegas Emanuel.

Lebih dari itu, keberadaan Alkitab ini menjadi cermin betapa indahnya keberagaman di tanah Mimika. Tuhan kini “berbicara” langsung dalam dialek Damal dan Amungme, sebuah pengingat manis bahwa perbedaan bahasa adalah anugerah, bukan penghalang.

Sering kali, barang-barang bersejarah hanya berakhir menjadi pajangan berdebu di lemari kaca. Namun, Emanuel Kemong menolak keras nasib tersebut untuk Alkitab ini. Ia menitipkan pesan menohok sekaligus harapan besar yang akan mengubah lanskap kehidupan rohani masyarakat.

Buku suci ini dicetak bukan untuk dijadikan jimat atau sekadar koleksi kebanggaan semata. Dampak nyatanya harus dirasakan di dalam rumah-rumah warga, di gereja, dan di bangku-bangku sekolah minggu.

“Saya berharap Alkitab Bahasa Damal dan Amungme ini tidak hanya menjadi simbol atau koleksi. Kiranya Alkitab ini benar-benar digunakan dalam ibadah, penginjilan, pendidikan rohani, serta dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,” tutup Wakil Bupati Mimika.

Kini, ‘harta karun’ itu telah berada di tangan masyarakat Damal dan Amungme. Bukan sekadar deretan teks yang diterjemahkan, melainkan kompas kehidupan yang akan terus membimbing generasi Papua, hari ini dan selamanya. (*/spr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini