
True Story : Penulis yang tinggal di Timika sejak tahun 1985 (3)
Satuan Pemukiman (SP) 1 Kamoro Jaya bukan sekadar titik di peta Mimika; ia adalah tempat dimana pertamakalinya segala suku melebur. Di sana, aroma masakan Jawa dari para transmigran beradu dengan logat kental saudara-saudara dari Toraja, Kei, hingga penduduk asli Mimika yaitu Suku Kamoro yang mendiami wilayah Swakarsa, Jalur 3 dan jalur selatan.
Di antara keberagaman itu, persahabatan anak-anak tumbuh tanpa sekat. Salah satu memori yang paling melekat adalah tentang mendiang Felix Kutapo, seorang bocah Kamoro yang ceria. Felix sering mampir ke rumah untuk bermain selepas sekolah, melintasi batas-batas jalur pemukiman hanya untuk menghabiskan waktu bersama.
Suatu sore yang teduh di akhir tahun 80an, saat matahari mulai condong ke ufuk barat, Felix bersiap untuk pulang. Namun, Mama menahannya.
“Felix, jangan pulang dulu. Makan sama-sama di sini,” ajak Mama hangat.
Menu hari itu cukup sederhana namun menggugah selera: sayur santan dengan potongan tahu putih yang dipotong dadu.Tahu itu langsung dimasak tanpa digoreng terlebih dahulu—putih bersih dan kenyal di dalam kuah kuning yang gurih.
Kami pun makan dengan lahap. Namun, ada yang ganjil di piring Felix. Ia menyisihkan setiap potong tahu ke pinggir piring dengan sangat hati-hati, seolah benda putih itu adalah ranjau yang berbahaya. Ia hanya menyantap nasi dan kuah sayurnya saja.
Melihat hal itu, Mama menegur lembut, “Felix, kok tahunya tidak dimakan? Ayo dihabiskan, enak itu.”
Felix mendongak. Wajahnya yang biasanya penuh tawa mendadak tampak serius, bahkan sedikit pucat. Jawaban yang keluar dari mulutnya sungguh di luar dugaan kami semua.
“Saya tidak makan tahu, Mama,” bisiknya pelan.
“Lho, kenapa?” tanya Mama heran.
Dengan nada polos namun penuh keyakinan, Felix menjawab, “Saya takut mati!”
Gerrr! Gelak tawa kami langsung pecah di ruang makan. Bayangkan, sebuah tahu putih yang lembut dianggap sebagai ancaman nyawa oleh Felix. Kami pun segera menjelaskan dengan saksama bahwa tahu hanyalah olahan kacang kedelai, sama sekali tidak mengandung sihir atau racun yang mematikan.
Setelah diyakinkan berkali-kali, Felix akhirnya memberanikan diri. Dengan ragu, ia menusuk satu potong tahu dan memasukkannya ke mulut. Matanya langsung berbinar, sebuah senyum lebar perlahan terukir di wajahnya.
“Ternyata tahu ini enak sekali, Mama!” serunya girang, seolah baru saja menemukan harta karun tersembunyi. Ketakutannya sirna, digantikan oleh nafsu makan yang bertambah dua kali lipat.
Hari itu ditutup dengan perut kenyang dan tawa yang masih tersisa. Felix pulang saat senja menyapa, membawa cerita baru tentang keberaniannya menaklukkan “ketakutan maut” bernama Tahu. Sebuah kenangan sederhana yang selalu membuat kami tersenyum saat mengingatnya kembali. (*)


























